Senin, 03 Januari 2011

Asam Formiat

Asam formiat atau asam metanoat yang juga dikenal sebagai asam semut adalah senyawa organik yang mengandung gugus karboksil (-CO2H) dan merupakan bagian dari senyawa asam karboksilat. Asam formiat ini pertama kali diperoleh oleh ahli kimia pada abad pertengahan melalui proses penyulingan semut merah dengan rumus molekul HCOOH.

Sifat dari asam formiat ini adalah mudah terbakar, tidak berwarna, berbau tajam/menusuk dan mempunyai sifat korosif yang cukup tinggi. Asam formiat ini mudah larut dalam air dan beberapa pelarut organik, tetapi sedikit larut dalam benzene, karbon tetraklorida dan toluene, serta tidak larut dalam dalam karbon alifatik.
Asam formiat mempunyai bobot molekul 46,03 g/mol dan merupakan asam paling kuat dari deretan gugus asam karboksilat serta berfungsi sebagai reduktor. Asam formiat dalam keadaan murninya mempunyai titik leleh 8oC, titik didih 101oC, dan rapatan sebesar 1,2 g/ml pada suhu 20oC, secara ideal struktur karbonil senyawa asam formiat mencerminkan ikatan hydrogen yang kuat antara molekul-molekul asam karboksilat (kira-kira 10 kkal/mol untuk 2 ikatan hydrogen), maka asam karboksilat ini sering dijumpai dalam bentuk dimer asam karboksilat / bahkan dalam fasa uap (Fesenden & Fesenden, 1995).

Pemakaian asam formiat didalam negeri terutama untuk :
1. Koagulasi Karet Alam
Sebagai koagulan aid yang akan menghasilkan kualitas karet yang lebih baik.
2. Conditioner Pada Proses Pencelupan Tekstil
Digunakan sebagai bahan kimia pembantu dalam proses pencelupan atau pewarnaan anti kusut dan anti ciut.
3. Conditioner Pada Proses Penyamakan Kulit
Digunakan dalam proses pembersihan, penghilangan zat kapur dan pewarnaan kulit.
4. Silase
Untuk pencampuran pada makanan ternak

Sebagai penemuan baru Asam Formiat digunakan pula didaerah-daerah pengeboran minyak dalam tanah yang diduga mengandung minyak, yang seringkali ditemui terjadinya kebuntuan pada aliran saluran minyak karena adanya partikel-partikel yang ikut terbawa dalam minyak, dengan pemberian Asam Formiat dilokasi penyebab kebuntuan maka agrerat-agrerat tersebut akan terhancurkan sehingga aliaran saluran keluarnya minyak yang dibor akan hancur kembali.

Pembuatan Asam Formiat
1. Hidrolisis Metil Formiat
Pembuatan asam formiat pada proses ini diperoleh melalui dua tahap reaksi, yaitu reaksi karbonisasi methanol dan reaksi hidrolisis metil formiat. Reaksi ini berlangsung secara endotermis dan asam formiat yang terbentuk bersifat otokatalis (Ziakowski & Bayne, 1980).
2. Sintesis Langsung Karbon Monoksida dengan Air
Asam formiat pada proses ini diperoleh dengan cara menghidrolisis gas karbon monoksida secara lansung dengan menggunakan tembaga klorida sebagai katalis.
3. Proses Formamid
Proses ini diperkenalkan pertama kali oleh Meyer dkk, dengan cara mereaksikan karbon monoksida dan amonia pada 200oC dengan tekanan 150-200 atm, kemudian formamid yang terbentuk direaksikan dengan asam sulfat menghasilkan asam formiat dan ammonium sulfat.
4. Oksidasi Alkana
Pada proses ini asam formiat yang diperoleh sebagai hasil samping pada reaksi oksidasi butane dalam proses pembuatan asam asetat. Asam formiat yang diperoleh sebesar 5 % [w/w], dan proses ini kurang efektif untuk pembuatan asam formiat secara besar-besaran.
5. Reaksi Alkali dengan Karbon Monoksida
Proses ini diawali dengan mereaksikan karbon monoksida dengan natrium hidroksida membentuk natrium asetat, kemudian natrium asetat yang terbentuk direaksikan dengan asam sulfat membentuk asam formiat dan garam natrium sulfat. Asam formiat yang terbentuk mempunyai kapasitas kecil dan garam natrium sulfat yang terbentuk sebagai produk samping dapat mengakibatkan kerugian pada proses ini (Ziakowski & Bayne, 1980).

Urea

Urea merupakan pupuk nitrogen yang paling mudah dipakai. Zat ini mengandung nitrogen paling tinggi (46%) di antara semua pupuk padat. Urea mudah dibuat menjadi pril (butiran) dan mudah diangkut dalam bentuk curah maupun dalam kantong dan tidak mengandung bahaya ledakan. Zat ini mudah larut di dalam air dan tidak mempunyai residu garam sesudah dipakai untuk tanaman. Kadang-kadang zat ini juga digunakan untuk pemberian makanan daun (Austin, 1996).

Urea untuk pertama kali dibuat oleh Wochler pada tahun 1828, yaitu dengan memanaskan ammonium karbamat (NH2COONH4) sehingga berubah menjadi urea (NH2CONH2). Kebutuhan pupuk sebagai penambah unsur hara tanah khususnya nitrogen di daerah pertanian Eropa membawa para ilmuwan melakukan analisis tentang kemungkinan kira-kira senyawa nitrogen paling stabil dalam fasanya, paling besar dalam kandungan nitrogennya, serta kemudian dalam sintesis dalam industri. Pada tahun 1870 Bassarow membuat urea dari dehidrasi ammonium karbamat dan cara sintesis inilah yang menjadi dasar urea sampai saat ini dalam skala industri komersial. Urea baru dapat dibuat ketika I.G. Ferben membuat pabrik di Jerman berdasarkan proses dehidrasi ammonium karbamat. Senyawa terakhir ini dapat diperoleh dengan mereaksikan amonia (NH3) dengan karbon dioksida (CO2) pada tekanan dan temperatur tinggi. Sejak saat itu maka teknik sintesis urea banyak mengalami perkembangan dalam segi desain reaktor dengan pertimbangan efisiensi energi dan kualitas urea yang dihasilkan.

Bahan baku utama dalam proses produksi urea adalah gas alam, air dan udara. Ketiga bahan baku utama tersebut diolah untuk menghasilkan nitrogen (N2), hidrogen (H2), dan karbon dioksida (CO2). Ammonia dibentuk atas dasar reaksi gas nitrogen dan hydrogen. Pembuatan urea melibatkan dua tahap reaksi. Pertama pembuatan ammonium karbamat melalui reaksi karbon dioksida dan ammonia :
2 NH3(l) + CO2(g)  NH2COONH4(l)
ammonium karbamat
Reaksi ini sangat eksotermik dan diikuti dengan dekomposisi ammonium karbamat yang bersifat endotermik.
NH2COONH4(l)  NH2CONH2(l) + H2O(l)
urea

Kedua reaksi tersebut merupakan reaksi kesetimbangan. Reaksi pembentukan berlangsung sampai habis pada kondisi reaksi biasa, sedang reaksi dekomposisi tidak terlalu sempurna. Karbon dioksida dan ammonia yang tidak terkonversi, bersama karbamat yang tidak terdekomposisi, harus dikumpulkan untuk digunakan kembali. Langkah ini cukup sulit. Sintesis ini menjadi lebih rumit lagi karena adanya pembentukan dimer yang dinamakan biuret, (NH2CONHCONH2.H2O), yang kadarnya tidak boleh tinggi, karena mengganggu pertumbuhan tanaman.

Pada masa lalu, operasinya dilaksanakan sekali-kali, dimana ammonia yang tak terkonversi diubah menjadi senyawa ammonium. Tetapi sekarang, proses ini terlalu mahal dan pasaran untuk produk sekunder juga agak sulit. Pabrik yang menggunakan daur ulang sebagian maupun daur ulang total sudah pernah dicoba, tetapi sekarang hanya pabrik dengan daur ulang total yang lebih menjadi perhatian.
Dalam pabrik konvensional , ammonium karbamat didekomposisi dalam satu pengurai atau lebih, dimana setiap unit mempunyai tekanan yang lebih rendah dari unit sebelumnya. Dewasa ini metode yang paling populer dirancang yaitu penggunaan kalor pembentukan karbamat untuk menjalankan reaksi dekomposisi yang endotermik, dengan sisa untuk membangkitkan uap. Ammonia cair, gas karbondioksida dan bahan baku daur ulang bertemu dalam reaktor penukar kalor pada tekanan 14 kg/cm2 dan suhu 170 oC sampai 190 oC, sehingga membentuk karbamat. Sebagian besar kalor reaksinya dibawa keluar sebagai uap proses. Reaksi dekomposisi karbamat itu berlangsung lambat dan endotermik. Campuran reagen yang tidak bereaksi dan karbamat itu mengalir ke pengurai. Rasio stoikiometri CO2/NH3 untuk konversi menjadi urea pada dasarnya adalah 55%, tetapi dengan menggunakan CO2 atau NH3 yang berlebihan, keseimbangan itu dapat didorong sampai memberikan rasio 85%. Reaktor itu harus dipanaskan untuk mendorong agar reaksi berlangsung. Agar semua gas yang tidak bereaksi dan karbamat yang tidak terdekomposisi dapat seluruhnya disingkirkan dari produk, urea itu harus dipanaskan pada tekanan lebih rendah. Reagen ini direaksikan dan dipompakan kembali ke dalam sistem. Produk akhir didapat setelah evaporasi dan pembuatan pril atau butiran. Secara keseluruhan, lebih dari 99% CO2 dan NH3 terkonversi menjadi urea sehingga proses ini tidak mempunyai masalah lingkungan. Karbamat itu sangat korosif terhadap baja biasa maupun baja tahan karat, tetapi dalam lingkungan oksigen baja tahan karat dapat tahan, sehingga bersama reagen CO2 dimasukkan juga udara untuk mengurangi korosi pada sistem.

Materi dan Perubahannya (KIMIA DASAR)

MATERI
Materi disebut juga zat adalah sesuatu yang memiliki massa, volume dan sifat-sifat.
Menurut wujudnya materi dikelompokkan menjadi tiga yaitu : padat, cair dan gas.
- Materi yang tergolong dalam wujud gas, misalnya : udara, gas bumi, gas elpiji, uap air, gas kapur, kapur barus.
- Materi dalam wujud cair misalnya : air, minyak goreng, alkohol, bensin, solar, larutan gula, air laut.
- Materi dalam wujud padat misalnya : baja, batu dan kapur.

Materi dapat mengalami perubahan jika dipengaruhi oleh energi kalor, listrik atau kimia perubahan materi dibedakan dalam dua macam yaitu perubahan fisika dan perubahan kimia
a. Perubahan fisika :
Suatu materi mengalami perubahan fisika, jika jenisnya tidak berubah, meskipun sifat-sifat fisikanya mengalami perubahan. Sifat fisika : Yaitu sifat materi yang berkaitan dengan peristiwa fisika, misalnya : massa jenis, titik didih, titik lebur, kalor lebur, rasa, warna, dan bau
Contoh : Es jika dipanasi berubah air selanjutnya menjadi uap.
Dalam peristiwa ini terjadi perubahan wujud, yaitu pada menjadi cair akhirnya menjadi, tetapi jenis zat tetap yaitu air.
b. Perubahan Kimia
Suatu materi mengalami perubahan kimia jika jenis zat berubah, perubahan kimia disebut juga reaksi kimia. Sifat kimia adalah sifat suatu materi yang berkaitan dengan peristiwa kimia yang meliputi: Keterbakaran, Kereaktipan.
Contoh :
1. Batu kapur dipanasi menjadi kapur sohor dan karbon dioksida.
Batu kapur, kapur sohor dan karbon dioksida tiga zat yang berbeda
Pada peristiwa ini zat sebelum dan sesudah reaksi jenisnya berbeda
2. Kertas dibakar, zat yang terjadi sesudah pembakaran, abu, asap disertai energi kalor dan cahaya.
Zat sebelum dibakar kertas, zat setelah dibakar abu dan asap yang berbeda jenisnya dengan zat sebelum dibakar yaitu kertas.

UNSUR
Unsur adalah zat yang tidak dapat diuraikan menjadi zat lain yang lebih sederhana.
Contoh :
Unsur besi tidak bisa diuraikan menjadi zat lain tetapi hanya dapat diuraikan menjadi atom besi.
Unsur besi dan atom besi adalah zat yang sejenis.

Unsur berdasarkan sifat-sifatnya diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu unsur logam dan bukan logam (non logam).
Unsur logam dan sifat-sifatnya
- Berwujud padat kecuali raksa (Hg)
- Dapat menghantar panas atau listrik
- Dapat ditempa menjadi bentuk plat
- Dapat dibentuk menjadi kawat
- Permukaannya mengkilat
Yang termasuk unsur logam, misalnya :
Besi lambangnya Fe
Aluminium lambangnya Al
Seng lambangnya Zn
Tembaga lambangnya Cu

Sifat-sifat unsur bukan logam
- Tidak dapat menghantar arus listrik (isolator)
- Permukaan tidak mengkilat kecuali unsur karbon
- Tidak dapat menghantar panas (isolator)
- Berwujud padat atau gas
- Tidak dapat ditempa menjadi bentuk plat
Yang termasuk unsur bukan logam misalnya :
Karbon lambang C
Oksigen lambang O
Hidrogen lambang H
Nitrogen lambang N

SENYAWA
Senyawa adalah zat tunggal yang oleh beberapa jenis unsur. Atau dapat diartikan, senyawa adalah zat yang terbentuk oleh beberapa atom dari berbagai jenis unsur yang saling terikat secara kimia
Contoh :
- Senyawa air lambang H2O
Terbentuk oleh dua jenis unsur yaitu unsur Hidrogen (H) dan unsur Oksigen (O) atau : Senyawa air H2O, terbentuk oleh 3 atom dari unsur H dan unsur O.

Menurut asal terbentuknya senyawa dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu senyawa organik dan senyawa anorganik
Senyawa Organik
Adalah senyawa yang berasal dari makhkuk hidup atau yang terbentuk oleh makhluk hidup (organisme). Jumlahnya jauh lebih banyak dari pada senyawa Anorganik.
Senyawa organik juga disebut senyawa karbon (Carbon), karena setiap senyawa mengandung unsur karbon (C).
Yang tergolong senyawa organik misalnya :
- Ureum (urea) ada dalam air kencing
- Gula pasir berasal dari pohon tebu
- Alkohol berasal dari fermentasi (peragian) larutan gula
- Asam cuka terdapat dalam buah yang mempunyai rasa asam (kecut)
- Bensin yang terdiri dari beberapa jenis senyawa Alkana yang berasal dari fosil-fosil.
Senyawa Anorganik
Senyawa Anorganik adalah senyawa yang tidak berasal dari makhluk hidup. Senyawa anorganik diklasifikasikan menjadi :
- Senyawa oksida
- Senyawa Asam
- Senyawa Basa
- Senyawa Garam

CAMPURAN
Campuran adalah zat yang terbentuk dari beberapa jenis zat, yang sifat-sifat zat pembentuknya tetap (masih ada)
Contoh : Larutan gula, terbentuk oleh air dan gula, sifat gulanya masih ada dalam larutan yang ditunjukkan rasa larutan manis
Campuran homogen
Adalah campuran, jika batas zat-zat penyusunnya tidak nampak dan masing-masing partikel zatnya tersebar merata.
Contoh :
1. Emas 22 karat terbentuk oleh perak dan emas, tetapi logam perak dan emas tidak nampak dalam materi homogen tersebut.
2. Larutan oralit terbentuk oleh air, gula dan garam.
Pada larutan ini komponen penyusunnya tidak nampak
Campuran heterogen
Campuran heterogen adalah zat yang terbentuk oleh beberapa jenis zat yang batas zat penyusunnya masih dapat dilihat atau dikenal dan sifat-sifat zat penyusunnya masih ada.
Contoh :
1. Campuran yang terbentuk oleh air dan minyak goreng.
Dalam campuran ini, minyak dan airnya dapat dilihat dengan jelas
2. Gula pasir dimasukkan kedalam gelas yang berisi air hangat, gula larut rasa larutan dibagian bawah lebih manis dari pada dibagian permukaan
3. Suatu materi terbentuk oleh semen, batu kerikil dan batu pasir. Jika materi itu dibelah, maka semen, batu pasir dan batu kerikilnya akan nampak jelas.

Pemisahan Campuran
Materi yang terdapat di alam, sebagian besar terdapat sebagai campuran. Untuk memenuhi kebutuhan zat murni (zat tunggal), dengan memisahkan zat murni dari campuran dengan cara :
Pengayakan, Penyaringan (filtrasi), Kristalisasi, Destilasi
Pengayakan
Adalah cara memisahkan komponen materi heterogen, berdasarkan perbedaan volumenya
Contoh : 1. Mengambil batu pasir dari materi heterogen yang terbentuk oleh batu kerikil dan batu pasir
Contoh : 2. Memisahkan/mengambil beras yang bercampur dengan katul
Penyaringan (filtrasi)
Filtrasi adalah cara memisahkan zat cair, zat padat yang terdapat dalam campuran heterogen.
Hasil filtrasi adalah zat padat yang disebut residen dan zat cair disebut filtrat.
Contoh : 1. Memisahkan santan kelapa dengan ampas menggunakan filter (saringan ) kalo
Contoh : 2. Pada PAM (Perusahaan Air Minum) sebagai bahan dasar air kali.
Pada proses awal air kali disaring dengan filter bed, yaitu penyaring terbuat dari lapisan batu pasir merupakan yang paling atas, batu kerikil lapisan ditengah dan yang paling bawah batu besar, air hasil saringan diproses hingga menghasilkan air minum.
Kristalisasi
Cara misahkan komponen zat pada dan zat cair dalam materi homogen (campuran homogen), dengan cara memanaskan campuran homogen, tersebut, hingga zat padat membentuk kristal dan zat cairnya akan menguap.
Contoh : 1. Membuat garam dari air laut.
Air laut pada saat pasang dapat dialirkan kedalam tambak (bak yang besar).
Waktu air laut surut pintu tambak ditutup, air laut yang ada dalam tambak, kena panas matahari, maka air menguap, terus hingga tambah menjadi kering dan kristal garamnya tinggal dalam tambak.
Contoh : 2. Membuat gula pasir dari Nira (air tebu)
Nira dimasukkan kedalam VACUM EVAVORATOR (pesawat penguap hampa udara). Pesawat dipanasi maka air yang terdapat dalam nira menguap dengan cepat, uap air dalam pesawat dikeluarkan dari pesawat dengan cara dipompa, maka yang tinggal dalam pesawat kristal gula.
Destilasi
Destilasi merupakan cara memisahkan komponen dari materi homogen (campuran homogen) yang didasarkan pada perbedaan titik didih atau titik cair
dari masing-masing zat yang penyusun campuran homogen.
Contoh : 1. Memunirkan Alkohol
Pada industri alkohol, alkohol dihasilkan dari fermentasi latek (sisa mira tebu yang tidak bisa diproses menjadi gula pasir). Untuk mengambil alkohol yang terdapat dalam latek yang telah difermentasi dengan cara didestilasi. Latek yang mengandung alkohol ditaruh pada tempat (labu) kemudian dipanasi, maka alkohol akan menguap, uap alkohol mengalir melalui pendingin, maka uap alkohol mengembun dan cairan alkhol ditampung.

Adsorpsi

Adsorpsi adalah proses fisik atau kimia dimana senyawa berakumulasi di permukaan(interface) antar dua fase. Interface merupakan suatu lapisan yang homogen antara dua permukaan yang saling berkontak. Substansi yang diserap disebut adsorbat sedangkan material yang berfungsi sebagai penyerap disebut adsorben. Menurut weber (1982) dan Benefield (1982) mekanisme yang terjadi pada proses adsorpsi yaitu :
1. Molekul-molekul adsorben berpindah dari fase bagian terbesar larutan ke permukaan interface, yaitu lapisan film yang melapisi permukaan adsorben atau eksernal.
2. Molekul adsorben dipindahkan dari permukaan ke permukaan luar dari adsorben (exterior surface)
3. Molekul-molekul adsorbat dipindahkan dari permukaan luar adsorben menyebar menuju pori-pori adsorben. Fase ini disebut dengan difusi pori
4. Molekul adsorbat menempel pada permukaan pori-pori adsorben
Menurut Smisek (1970) umumnya adsorpsi ion logam dari larutan ke permukaan adsorben merupakan adsorpsi fisik dimana gaya yang bekerja antar logam berat dari permukaan karbon aktif adalah gaya Van der Walls dimana tidak terjadi reaksi reaksi secara kimia atau pengikatan secara ionik logam dengan adsorben.

Ada dua metode adsorpsi yaitu adsorpsi fisika dan adsorpsi kimia. Perbedaan dasar antara adsorpsi fisika dan adsorpsi kimia adalah sifat dari gaya-gaya yang menyebabkan ikatan adsorpsi tersebut
1. Adsorpsi fisika
 Ikatan Van der Walls
 Reversible, karena proses penyerapan dapat lepas kembali ke dalam pelarut
 Kalor adsorpsi kecil yaitu 5-10 kkal/mol
 Kecepatan pembentukan ikatan cukup tinggi
 Regenerasi dapat dilakukan
 Terjadi pada suhu rendah, makin tinggi suhu tingkat penyerapan semakin kecil
2. Adsorpsi kimia
 Ikatan kimia
 Irreversible, karena proses penyerapan tidak dapat dilepas kembali ke dalam pelarut
 Kalor adsorpsi besar yaitu 10-100 kkal/mol
 Kecepatan pembentukan ikatan bisa lambat bisa cepat, tergantung besarnya energi aktivasi.
 Regenerasi tidak dapat dilakukan
 Terjadi pada suhu tinggi, makin tinggi suhu tingkat penyerapan semakin besar.

Batubara

Batubara dapat didefinisikan sebagai batuan sedimen organik yang secara kimia dan fisika adalah heterogen dengan kandungan unsur utamanya yaitu karbon, hidrogen, oksigen, serta unsur tambahan berupa belerang dan nitrogen. Zat lain adalah senyawa anorganik pembentuk abu yang tersebar sebagai partikel bahan mineral suatu batubara. Batubara berasal dari sisa tumbuh-tumbuhan yang hidup dirawa-rawa dan delta sungai, yang mengalami pembusukan, pemadatan, dan proses perubahan sebagai akibat dari pengaruh kimia dan fisika. Proses ini berlangsung dalam jangka waktu yang sangat lama (Speight, J. G, 1994).

Tahap pembentukan batubara secara umum dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu : tahap penggambutan (peatification) dan tahap pembatubaraan (coalification). Proses pembatubaraan akan menghasilkan endapan batubara dalam berbagai peringkat sesuai dengan tingkat kematangan material organiknya.
Intensitas pembusukan tergantung dari peredaran air, suhu dan jumlah zat asam yang ada untuk hidupnya bakteri pembusuk. Perubahan kimia yang dimaksud adalah terjadinya perubahan yang kompleks dari senyawa batubara yang berasal dari tumbuh-tumbuhan sebagai akibat dari proses pembusukan dan pemampatan. Pada proses tersebut terjadi pelepasan air, CO2 dan gas metana.
Tahap-tahap pembentukan batubara dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pertama kali terjadinya pembusukan dari bahan organik mati bersifat kayu (woody) oleh bakteri aerobic (bakteri yang memerlukan oksigen). Pembusukan ini terjadi bersama-sama dengan oksidasi dan hidrolisis sebagian menghasilkan produk yang berbentuk slurry, dimana material tersebut menjadi busuk. Namun dalam kejadian ini struktur biologi asalnya masih tetap kelihatan.
2. Tahap kedua adalah akumulasi produk tadi tertimbun di bawah tumbuhan mati berikutnya dengan bakteri aerobic masih terus bekerja. Namun karena penyediaan oksigen makin lama makin berkurang, maka bakteri ini mati dan diganti dengan bakteri non-aerobic (bakteri yang hidupnya tidak membutuhkan oksigen).
3. Proses selanjutnya adalah proses pemadatan dan konsolidasi dibawah lumpur biologis dimana bakteri non-aerobic akhirnya berhenti bekerja. Pertambahan beban menyebabkan material menjadi padat, airnya terperas (dewatering). Dalam waktu relatif lama terbentuklah lignit.
4. Tahap selanjutnya adalah pembentukan subbituminus, bituminus, semi bituminus, semi antrasit dan antrasit. Terbentuknya macam-macam batubara tersebut tergantung dari tekanan, suhu dan umur geologi (Breidenbach and Pohl, 1983).

Cara Pembuatan Zeolit X

Pembuatan zeolit X diawali dengan mencampur Al(OH)3 dengan larutan NaOH 50% dan aquades dalam labu leher tiga. Campuran tersebut dipanaskan sampai suhu 80oC dengan pengadukan selama 30 menit. Lalu ke dalam campuran tersebut ditambahkan silika dan aquades, campuran ini diaduk selama 2 jam tanpa pemanasan. Setelah itu pengadukan dihentikan, dilanjutkan dengan pemanasan campuran selama 30 menit. Kemudian campuran tersebut disaring dan diambil endapannya. Endapan dicuci dengan aquades lalu dikeringkan dalam oven (MEMMERT) pada suhu 120oC selama 2 jam. Setelah itu dilanjutkan dengan tahap pengaktifan produk zeolit X dengan proses kalsinasi dalam furnace (Naber Industriofenbau Lilienthal/Bremen 2804) pada suhu 550oC selama 4 jam.

Aktivasi Zeolit
1. Aktivasi zeolit dengan cara fisika: pemanasan.
Zeolit dipanaskan pada suhu 250 ÂșC selama 3 jam.
2. Aktivasi zeolit dengan cara kimia: asam dan basa.
a. Cara asam. Ditimbang sampel zeolit 15 gram, ditambah larutan H2SO4 0,2 N sebanyak 120 ml. Campuran diaduk dengan magnetic stirrer selama 60 menit dan kemudian dibilas dengan aquades sampai pH netral dan dikeringkan dalam oven pada suhu 250 C selama 3 jam.
b. Cara basa. Ditimbang sampel zeolit hasil isolasi masing-masing 15 gram, ditambah NaOH 0,5 N sampai 30 ml. Campuran diaduk dengan magnetic stirrer selama 180 menit, dibilas dengan aquadet sampai pH netral dan dikeringkan dalam oven pada suhu 250 C selama 3 jam.